Tampilkan postingan dengan label mahameru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahameru. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Februari 2014

Mahameru dan Misterinya
Puncak abadi para dewa, demikian sepenggal lirik yang dinyanyikan oleh Dewa 19 dalam lagunya yang berjudul Mahameru. Gunung berapi yang sering juga dikenal dengan Gunung Semeru ini secara adminidtratif terletak di Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Puncak Mahameru memiliki ketinggian 3676 mdpl yang merupakan puncak tertinggi di pulau Jawa.

Gunung Semeru masih menyisakan berjuta misteri bagi masyarakat sekitar.  Hingga saat ini Gunung Semeru masih dipercaya oleh masyarakat Hindu sebagai gunung tempat bersemayamnya para Dewa Siwa. Dewa Siwa merupakan Dewa yang dipercaya masyarakat Hindu sebagai Dewa yang bertugas melebur segala sesuatu yang sudah usang dan tidak layak berada di dunia fana lagi sehingga harus dikembalikan kepada asalnya. Namun, entah kenapa, Mahameru seakan berbelas kasihan pada masyarakat sekitar. Hal tersebut dibuktikan dengan berlimpahnya tambang pasir besi di Kabupaten Lumajang yang sangat berkontribusi bagi perekonomian masyarakat Lumajang.

Mahameru Penyangga Perekonomian Lumajang

Aliran Lahar Dingin
 Turunnya banjir lahar dingin dari puncak Mahameru seakan bukan lagi merupakan bencana bagi masyarakat Kabupaten Lumajang, khususnya masyarakat sepanjang jalur lahar dingin. Banjir lahar dingin sekejap disikapi sebagai sebuah berkah dari Dewa Siwa. Menurut temuan dilapangan, memang lahar dingin sangat memungkinkan terjadi apabila puncak Mahameru diguyur hujan deras. Batas vegetasi terakhir di Semeru ditandai oleh Cemara Tunggal dan kini bisa disebut Cemara Tumbang, karena pada Tahun 2009 Cemara Tunggal telah tumbang. Setelah Vegetasi terakhir tersebut, dataran menuju puncak didominasi bebatuan besar, kerikil dan juga jutaan ton pasir yang diyakini oleh para ahli merupakan pasir besi.

Sebagian besar tambang pasir berada di Kecamatan Candipuro, pasirian, dan Tempursari dan Pronojiwo. Areal bahan tambang/galian pasir dan batu bangunan seluas 82,50 ha dengan volume 5.976.625 m³.  Bisa dibayangkan betapa melimpahnya berkah yang diberikan semeru terhadap kabupaten Lumajang. Namun, hal ini tidak diikuti dengan optimalisasi dari pemerintah agar mampu mempompa kontribusi tambang pasir lebih besar pada APBD Kabupaten Lumajang. Dimana areal pasir dan batu yang baru di eksploitasi seluas 15 ha dengan volume 239.065 m³ atau hanya 4% dari kapasitas yang tersedia.

Kutukan Dewa
aktifitas tambang
Tambang Pasir di Aliran Lahar Dingin
Dibalik melimpahnya berkah tersebut, masih menyisakan sebuah tanya mengapa Lumajang tidak mampu berbuat banyak untuk memanfaatkan limpahan tambang pasir tersebut. Jika ingin berspekulasi, hal ini bisa dikaitkan dengan resource curse yang dialami Belanda pada tahun 1959 yang terkenal dengan fenomena Dutch Disease. Pada tahun tersebut Belanda mengalami krisis karena Belanda terlalu fokus mengolah tambang minyaknya hingga mengabaikan sektor lainnya yang akhirnya membuat apresiasi yang menggelembung. Semoga hal demikian bisa diatasi oleh pemerintah Kabupaten Lumajang yang saat ini mulai mengembangkan pertambangan pasirnya. Sebuah pemikiran cemerlang telah dilontarkan dengan tidak akan menjual pasir tambang tanpa pengolahan terlebih dahulu, karena itu akan menyebabkan nilai jual lebih rendah.

Masihkah Bisa Melihat Ganasnya Hutan Rimba Mahameru?
Hutan Jambangan Semeru
Semakin berkembangnya perekonomian, akan memicu sebuah degradasi lingkungan. Tidak bisa dipungkiri lagi, puluhan hektar kawasan TN-BTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) baik sengaja atau akibat bencana mulai gundul.  Beberapa hektar lahan dikawasan Ranu Pani mulai beralih fungsi menjadi lahan kebun sayur yang selama ini menjadi mata pencarian utama masyarakat Ranu Pani. Jauh di selatan lereng Semeru eksplorasi kayu di hutan juga terus terjadi dan tak diimbangi reboisasi yang seimbang sehingga menyebabkan ambient quality menurun. Kesadaran masyarakat sekitar akan kualitas lingkungan atau ambient quality masih kurang. Hal ini perlu ditekankan lagi oleh pemerintah melalui penyuluhan maupun pendidikan agar degradasi lingkungan tidak terus menerus terjadi. Kesediaan masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian merupakan suatu warisan yang besar bagi anak cucu mereka dimasa yang akan datang.

Original : +Dani Jones Bern 
HL on  : http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/12/08/berkah-dari-dewa-dewi-mahameru-420323.html
Gunung Semeru berada pada posisi geografis 8°06' LS dan 120°55' BT atau secara administratif berada pada kawasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Gunung Semeru meliliki puncak yang disebut Mahameru dan Jonggring Saloka sebagai kawah dari Gunung yang memiliki ketinggian 3676 mpdl ini. 

Gunung Semeru memiliki keterikatan budaya spiritual Hindu. Seperti legenda Kabupaten Lumajang yang memiliki sebuah nama kuno. "Lamajang" berasal dari kata Luma artinya rumah dan Hyang artinya Dewa. Jadi Lamajang artinya rumahnya para Dewa. Lamajang secara resmi dikenal pada tahun 1255 masehi dengan adanya Prasasti Mula Malurung dimana daerah ini menjadi daerah bawahan Kerajaan Singosari dan diperintah oleh Adipati Nararya Kirana. Mahameru sendiri menjadi sebuah benteng alam bagi Lamajang yang pada saat itu diduduki kerajaan yang merupakan basis agama Hindu. Apalagi saat keruntuhan kerajaan Majapahit dan mulai berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam. Membuat masyarakat Majapahit yang masih ingin mempertahankan Hindu lari menuju Lumajang, sebelum akhirnya menuju Bali maupun Nusa Tenggara.


Mandara Giri Semeru Agung


Mahameru Menjulang Gagah dibalik Bromo

Hubungan Mahameru dengan perkembangan Hindu saat ini dibuktikan dengan adanya Pura Mandhara Giri Semeru Agung yang terletak di lereng Gunung Semeru. Pura tersebut merupakan salah satu pura yang dianggap masyarakat Hindu Indonesia sebagai Pura yang keramat karena letaknya yang dekat dengan Gunung yang menurut legenda adalah Gunung paling tua. Tidak salah apabila sebuah sebutan MAHAMERU terucap untuk gunung berapi ini.

Pandangan Hindu Siwaistis yang berpengaruh besar di Nusantara, termasuk Bali. Mereka percaya bahwa Dewa Siwa bersemayam di gunung tertinggi. Itu berarti di puncak Gunung Mahameru (Himalaya) dalam alam India, atau pucak Gunung Semeru dalam alam Nusantara. Teks-teks Purana India yang tergolong kitab Upaweda, memang menyuratkan Tuhan Yang Mahatunggal bersemayam di puncak Mahameru dan dikenal pula dengan nama Gunung Kailasa atau Gunung Himawa, yang bersalju abadi. Di sanalah Siwa menurunkan ajaran-ajaran-Nya kepada sakti-Nya, Dewi Parwati, Sang Dewi Gunung.

Kisah pandangan Hindu Siwaistis itu tampak sesuai dengan pandangan moyang Nusantara, tak terkecuali Bali. Dimana keduannya berorientasi akan kesucian sebuah gunung. Dalam tradisi asli Nusantara, yang oleh kalangan ahli arkeologi disebutkan terpengaruh budaya Austronesia dengan pusat di Yunan Selatan itu, gunung dipandang sebagai tempat bersemayam roh suci leluhur. Pandangan ini tampak sebagai kelanjutan tradisi sebelumnya yang mengenal sistem pekuburan berundak-undak, layaknya gunung. Belakangan, karena pengaruh Hindu, gunung pun dipandang sebagai tempat bersemayamnya para dewa. 

Air Kehidupan Mahameru
Selain itu menurut seorang pemangku Pura Mandara Giri Semeru Agung, ada urutan mitologi mengenai sumber-sumber mata air yang di anggap suci di Lumajang. Di mulai dari kisah patung Arcapada, dimana patung ini adalah patung sepasang laki-laki dan perempuan. Mbah Sarjo menjelaskan bahwa Arcapada bisa diartikan sebagai adam dan hawa (dalam agama Islam maupun Kristen) dan sebagai Kamajaya dan Kamaratih (dalam kepercayaan orang Hindu). Di bawah Arcapada terdapat sumber air yang mirip dengan yang terdapat di Watu Klosot yang dinamai Sumber Mani.

Ranu Kumbolo
Bukan tanpa dasar mengapa sumber air ini dinamai Sumber Mani. Menurutnya, Adam dan Hawa atau Kamajaya dan Kamaratih memulai kehidupan dari Sumber Mani untuk melanjutkan kehidupan generasi selanjutnya. Sesuai dengan namanya, Sumber Mani. Mani adalah Sperma dimana dia lah awal mula adanya kehidupan. Oleh karena itu Sumber Mani adalah sumber air suci pertama yang letaknya paling tinggi, yang kemudian turun menjadi Ranu Kumbolo, Ranu Pani, Ranu Regulo, Watu Klosot dan terakhir di Selokambang.

Watu Klosot
Watu Klosot
Original by Dani Jones Bern @danijonesbern

Kamis, 09 Mei 2013

Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli dimana pengelolaannya dengan sistem zonasi yang pemanfaatannya antara lain untuk tujuan pendidikan, penelitian dan rekreasi. Indonesia memiliki 50 buah taman nasional yang menyebar di enam wilayah yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, serta Maluku dan Papua. Dari seluruh taman nasional yang ada di Indonesia, TN Lorentz merupakan taman nasional daratan dengan keluasan yang paling besar yaitu sekitar 2.505.600 hektar dan TN Kelimutu merupakan taman nasional daratan dengan keluasan yang paling kecil yaitu sekitar 5.000 hektar, sedangkan TN Laut Teluk Cendrawasih merupakan taman nasional laut dengan luasan yang paling besar 1.453.500 hektar dan TN Laut Bunaken Manado Tua merupakan taman nasional laut dengan luasan yang paling kecilyaitu sekitar 89.065 hektar.  Keadaan biofisik taman-taman nasional tersebut sangat bervariasi. Dari segi luas saja, terdapat keragaman yang sangat tinggi, yaitu dari cuma 5000 ha seperti TN Kelimutu sampai 2,5 juta ha seperti TN Lorentz. Demikian pula, keadaan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di mana taman-taman nasional tersebut berada adalah sangat beragam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa setiap taman nasional tersebut memiliki potensi, permasalahanatau persoalan dan tantangannya masing-masing.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) adalah salah satu dari taman nasional yang ada di Indonesia. Taman nasional ini terletak di Provinsi Jawa Timur dan secara administrative terletak di empat kabupaten yaitu, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan. TNBTS memiliki dua objek daya tarik wisata yang paling popular yaitu Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

Objek wisata Gunung Semeru merupakan salah satu kawasan hutan yang dimanfaatkan sebagai objek wisata alam. Pariwisata saat ini menjadi salah satu sektor perekonomian yang dapat diandalkan dalam pembangunan ekonomi mulai dari tingkat daerah hingga nasional, terbukti dengan peningkatan jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2011 sebesar 8,45% jika dibandingkan dengan jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2010 yaitu sebesar 7,002,944 orang.

Indonesia yang kaya dengan objek wisata alam sangat memungkinkan untuk dikembangkan guna mendukung peningkatan ekonomi masyarakat. Pada sektor kehutanan, wisata alam dan pemanfaatannya diharapkan dapat menjadi kegiatan yang penting dalam perbaikan kondisi lingkungan dan peningkatan peran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan khususnya kawasan hutan. Besarnya korbanan yang dikeluarkan dapat digunakan untuk merefleksikan preferensi masyarakat terhadap sumberdaya alam hayati.

Dalam pengelolaan dan pengembangan suatu taman nasional selain aspek lingkungan perlu diperhatikan aspek sosial dan ekonomi. Besarnya pengorbanan yang diberikan untuk pengelolaan taman nasional tersebut hendaknya memberikan suatu keuntungan. Keuntungan disini bukan hanya terjaganya kelestarian alam tetapi juga memberikan manfaat  secara sosial dan ekonomi. Secara sosial bermanfaat bagi masyarakat baik pengunjung  yang menikmati keindahan alam ataupun masyarakat lokal yang memanfaatkan sumberdaya alam tersebut. Secara ekonomi adanya manfaat bagi institusi pengelola secara materi yang melebihi biaya pengelolaan yang dikeluarkan.

Kerusakan sumber daya alam dan lingkungan yang terjadi akan menurunkan manfaat tangible dan intangible suatu kawasan begitu juga dengan kawasan Gunung Semeru. Hal ini bisa merupakan efek dari tidak diketahuinya manfaat dari sumber daya alam di kawasan tersebut. Potensi daya tarik wisata alam yang dimiliki oleh Gunung Semeru merupakan modal utama pendorong kehadiran wisatawan untuk datang berkunjung. Daya tarik wisata alam tersebut akan dapat dinikmati oleh pengunjung bila tersedia fasilitas pendukung, sehingga pengembangan prasarana dan sarana fisik mutlak diperlukan.

Perencanaan pengembangan obyek daya tarik wisata dan pengembangan jenis kegiatan wisata sejak awal perlu dilakukan dan disusun dalam sebuah rancangan pengelolaan kawasan wisata sebagai alur pengembangan di masa yang akan datang. Kemudian nilai ekonomi di salah satu kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada dikategorikan dalam manfaat intangible berupa wisata.

Nilai wisata dilihat dari konsep ekonomi dapat diukur dengan metode kontingensi melalui pendekatan kesediaan membayar (willingness to pay) atas kepuasan memperoleh peningkatan kualitas lingkungan wisata dari kawasan. Metode ini mengukur besarnya biaya yang dikeluarkan oleh pengunjung sehingga dapat dijadikan acuan untuk menduga potensi dan nilai ekonomi yang dimiliki kawasan TNBTS. Dengan diketahuinya identifikasi daya tarik obyek wisata dan nilai ekonomi ini dapat memberikan informasi dan pengetahuan bahwa lingkungan dan sumberdaya alam memiliki nilai manfaat yang besar bagi masyarakat, sehingga bukan hanya pemerintah dan pengelola tetapi juga pengunjung dan masyarakat penting untuk menjaga kelestarian lingkungan dan sumber daya alam.

Menurut simulasi penghitungan willingness to pay TNBTS yang dilakukan, nilai wisata dari wisata alam Gunung Semeru pada tahun 2010 adalah sebesar Rp 36.210.000 dengan WTP rata-rata sebesar Rp 13.076,92. Terjadi peningkatan nilai wisata setiap tahunnya dimana hal ini dipengaruhi oleh peningkatan jumlah pengunjung dari tahun ke tahun. [dan]

sumber : Seminar Sumberdaya Alam, Lingkungan dan Energi Universitas Airlangga tahun 2012 tentang Pengembangan Wisata Alam di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Studi Kasus di Objek Wisata Alam Gunung Semeru oleh Daniel Jones Bernadi

Unordered List

Sample Text

Sample text

Diberdayakan oleh Blogger.

Social Icons

About Me

Featured Posts

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget